Membangun Guru yang Kuat: Belajar dari Perbandingan Indonesia dan Negara OECD
Penguasaan konsep sebagai muatan, pedagogi sebagai cara mengantarkannya.
Melihat Perbandingan sebagai Ruang untuk Belajar
Perbandingan pendidikan Indonesia dengan negara-negara yang tergabung dalam Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) sebaiknya tidak ditempatkan sebagai upaya menentukan siapa yang lebih baik. Setiap negara memiliki sejarah, kondisi sosial, jumlah penduduk, pemerataan akses, serta tantangan pendidikan yang berbeda. Perbandingan menjadi lebih bermanfaat ketika digunakan untuk melihat pola, menemukan kekuatan yang sudah dimiliki, dan mengenali bagian yang masih dapat diperkuat.
Pada banyak negara OECD, profesi guru semakin dipandang sebagai profesi berbasis pengetahuan. Guru tidak hanya diharapkan mampu mengelola kelas dan menggunakan metode pembelajaran, tetapi juga memiliki penguasaan bidang ilmu, pengetahuan pedagogis, kemampuan memahami cara siswa belajar, serta pertimbangan profesional dalam memilih strategi pembelajaran.
Penguasaan Konsep dan Pedagogi Perlu Tumbuh Bersama
Untuk menggambarkannya secara sederhana, pemahaman konsep dapat dianalogikan sebagai barang yang akan diantarkan kepada siswa. Pedagogi adalah kendaraan yang membantu barang tersebut sampai ke tujuan. Keduanya sama-sama diperlukan. Muatan yang baik tanpa kendaraan yang sesuai akan sulit sampai. Sebaliknya, kendaraan yang sangat baik akan kurang bermakna apabila muatan yang dibawa masih terbatas.
Dalam konteks ini, penguatan pedagogi di Indonesia merupakan langkah penting. Berbagai pendekatan seperti problem-based learning, project-based learning, inquiry, STEM, diferensiasi, pemanfaatan teknologi, dan AI dapat memperkaya pengalaman belajar. Namun, manfaatnya akan semakin besar apabila berjalan bersama dengan penguatan penguasaan konsep guru.
Apa yang Dapat Dipelajari dari Negara OECD?
Negara-negara OECD tidak menggunakan satu model pembelajaran yang seragam. Guru dapat menggunakan penjelasan langsung, diskusi, eksperimen, inquiry, problem solving, proyek, atau pembelajaran kolaboratif sesuai tujuan belajar. Hal yang menarik bukan semata-mata jenis metode yang digunakan, melainkan kapasitas guru untuk menentukan kapan dan mengapa suatu metode diperlukan.
Data TALIS 2024 menunjukkan bahwa sekitar 92% guru di negara peserta melaporkan memiliki otonomi substansial atau penuh dalam memilih metode mengajar. Otonomi seperti ini dapat bekerja dengan baik ketika didukung oleh penguasaan materi, pengetahuan pedagogis, pengalaman, dan kemampuan mengambil keputusan profesional.
Indonesia Memiliki Fondasi yang Terus Berkembang
Indonesia telah melakukan banyak upaya untuk meningkatkan kualifikasi guru, memperbarui kurikulum, memperluas penggunaan teknologi, dan mengenalkan berbagai pendekatan pembelajaran. Perkembangan tersebut merupakan modal penting. Tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa perubahan pada metode dan perangkat pembelajaran juga diikuti oleh pendalaman substansi yang akan dipelajari siswa.
Hasil PISA 2022 dapat digunakan sebagai salah satu cermin. Proporsi siswa yang mencapai setidaknya Level 2 di Indonesia masih berada di bawah rata-rata OECD, yaitu sekitar 18% pada matematika, 25% pada membaca, dan 34% pada sains. Rata-rata OECD masing-masing sekitar 69%, 74%, dan 76%. Angka ini tentu tidak dapat dijelaskan oleh kualitas guru saja. Kondisi sosial-ekonomi, akses, sumber daya sekolah, lingkungan keluarga, dan berbagai faktor lain ikut memengaruhi hasil belajar.
Namun, data tersebut mengingatkan bahwa penguatan pemahaman dasar siswa tetap perlu menjadi perhatian. Inovasi pembelajaran akan semakin berarti apabila membantu siswa membangun konsep yang benar, menghubungkan antarkonsep, dan menggunakan pengetahuan untuk menyelesaikan persoalan.
Bukan Memilih antara Konsep atau Pedagogi
Pembicaraan tentang peningkatan kualitas guru karena itu tidak perlu diarahkan pada pilihan antara guru yang kuat secara konseptual atau guru yang kuat secara pedagogis. Yang diperlukan adalah keduanya. Guru yang memahami materi secara mendalam memiliki muatan pengetahuan yang kaya. Guru yang memiliki kemampuan pedagogis mampu mengemas dan mengantarkan muatan tersebut dengan cara yang sesuai dengan kebutuhan siswa.
Di antara keduanya terdapat kemampuan yang sangat penting, yaitu pertimbangan profesional atau pedagogical judgment. Guru perlu mampu membaca situasi: konsep apa yang sedang dipelajari, bagian mana yang sulit bagi siswa, miskonsepsi apa yang mungkin muncul, dan intervensi apa yang paling sesuai.
Analogi Muatan dan Kendaraan
| Kondisi | Analogi | Makna |
| Konsep rendah, pedagogi rendah | Muatan sedikit, kendaraan kurang memadai | Siswa memperoleh sedikit konsep dan proses belajarnya juga belum optimal. |
| Konsep tinggi, pedagogi rendah | Muatan banyak, kendaraan kurang sesuai | Guru menguasai materi, tetapi pemahaman tersebut belum mudah diterima siswa. |
| Konsep rendah, pedagogi tinggi | Kontainer besar membawa sedikit muatan | Pembelajaran dapat menarik, tetapi kedalaman konsep yang diterima siswa masih terbatas. |
| Konsep tinggi, pedagogi tinggi | Muatan berkualitas, kendaraan sesuai | Konsep dapat sampai, dipahami, dan digunakan oleh siswa. |
Arah Penguatan yang Dapat Dipertimbangkan
Pelajaran yang dapat diambil bukanlah bahwa Indonesia harus menyalin sistem negara OECD. Konteks Indonesia memerlukan pendekatan sendiri. Namun, ada prinsip yang layak dipertimbangkan: pengembangan guru dapat dimulai dari penguatan penguasaan konsep, dilanjutkan dengan pemahaman tentang bagaimana siswa mempelajari konsep tersebut, kemudian pemilihan pedagogi, media, teknologi, dan asesmen yang sesuai.
Dengan urutan ini, metode pembelajaran tidak kehilangan pentingnya. Justru metode memperoleh fungsi yang lebih jelas. PBL digunakan ketika masalah dapat membantu siswa membangun pemahaman. Inquiry digunakan ketika proses penyelidikan memang diperlukan. Penjelasan langsung digunakan ketika siswa membutuhkan struktur konseptual yang jelas. Teknologi digunakan ketika memberikan nilai tambah terhadap proses belajar.
Menuju Pengembangan Guru yang Lebih Seimbang
Perbandingan dengan negara OECD pada akhirnya dapat menjadi undangan untuk melihat pengembangan guru secara lebih utuh. Kita dapat terus memperkuat pedagogi yang sudah berkembang, sambil memberikan ruang yang sama besar untuk memperdalam penguasaan bidang ilmu dan kemampuan mengambil keputusan profesional.
Mungkin pertanyaan yang perlu semakin sering hadir dalam pelatihan guru bukan hanya “metode apa yang akan digunakan?”, tetapi juga “pemahaman apa yang ingin sampai kepada siswa?”, “seberapa dalam guru memahami konsep tersebut?”, dan “cara apa yang paling sesuai agar siswa benar-benar memahaminya?”
Dengan demikian, perhatian kita tidak berhenti pada seberapa modern kendaraan yang digunakan. Kita juga memastikan bahwa muatannya cukup, berkualitas, dan kendaraan yang dipilih memang sesuai dengan tujuan perjalanan. Di titik itulah penguasaan konsep dan pedagogi dapat bertemu untuk menghasilkan pembelajaran yang bermakna.
Rujukan data utama: OECD, PISA 2022 dan TALIS 2024.
Penulis: Dr. Novitrian, dosen Program Studi Magister Pengajaran Fisika dan KK Fisika Nuklir dan Biofisika, Institut Teknologi Bandung. Bertugas menjadi ketua Program Studi Magister Pengajaran Fisika pada 2016-2020.