Enter your keyword

Bantu Perkuat Kompetensi Guru, KK FTETi mengadakan workshop di Karawang

Bantu Perkuat Kompetensi Guru, KK FTETi mengadakan workshop di Karawang

KARAWANG, 28 Agustus 2026 — Kelompok Keilmuan Fisika Teoretik Energi Tinggi (KK FTETi), Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung (ITB), menyelenggarakan kegiatan pengabdian masyarakat melalui Workshop Peningkatan Kompetensi, Literasi Sains, dan Numerasi untuk Guru Fisika/IPA/IPAS se-Kabupaten Karawang pada 27–28 Agustus 2026 di Kabupaten Karawang. Kegiatan ini menghadirkan dosen-dosen KK FTETi sebagai narasumber untuk memperkuat kompetensi guru dalam penguasaan materi, pedagogi, serta pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran sains.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat literasi sains dan numerasi melalui peningkatan kapasitas pendidik. Melalui rangkaian workshop, para guru memperoleh paparan mengenai berbagai pendekatan pembelajaran yang dapat diterapkan di kelas, mulai dari pembelajaran berbasis proyek, eksperimen, hingga pemanfaatan teknologi informasi dan pendekatan gamifikasi.

Mendorong Pembelajaran yang Relevan dengan Tantangan Masa Depan

Perkembangan teknologi dan perubahan lingkungan pendidikan menuntut guru untuk tidak hanya menguasai materi pelajaran, tetapi juga mampu merancang pengalaman belajar yang relevan dengan kebutuhan peserta didik. Dalam materi “Pembelajaran Berbasis Proyek: Dari Konsep ke Praktik di Kelas”, Prof. Triyanta, Ph.D. menjelaskan pentingnya mempersiapkan peserta didik menghadapi masa depan yang semakin kompleks dan tidak pasti. Pembelajaran berbasis proyek ditawarkan sebagai salah satu pendekatan untuk mengembangkan keterampilan masa depan melalui pembelajaran yang menekankan proses, pemecahan masalah, penerapan konsep, serta komunikasi dan kolaborasi antara peserta didik.

Prof. Triyanta, Ph.D. saat memaparkan materi tentang pembelajaran berbasis proyek dalam fisika, Kamis (27/8/2026) (Dok. Panitia)

Pendekatan pembelajaran yang kontekstual juga menjadi perhatian Prof. Dr. rer. nat. Bobby Eka Gunara melalui materi “Strategi Pembelajaran Mekanika Efektif dan Kontekstual”. Materi tersebut menekankan bahwa pembelajaran mekanika dapat dibangun dari fenomena yang dekat dengan kehidupan siswa, dengan perhatian pada intuisi, alasan, bukti, dan proses merevisi pemahaman berdasarkan hasil pengamatan. Dalam pendekatan ini, teknologi dipandang sebagai pilihan sumber daya yang dapat membantu pembelajaran, sementara kualitas berpikir dan penalaran siswa tetap menjadi hal utama.

Memanfaatkan Teknologi dan Gamifikasi dalam Pembelajaran

Pemanfaatan teknologi pada proses pendidikan dibahas lebih lanjut oleh Dr. Wahyu Hidayat dalam materi “Teacher and Digital Knowledge Management (DKM): Menjadi Guru Adaptif, Kreatif, dan Relevan di Era AI”. Ia membahas tantangan information overload yang dihadapi guru dan memperkenalkan Digital Knowledge Management sebagai pendekatan untuk mengumpulkan, mengorganisasi, menyimpan, berbagi, serta memanfaatkan pengetahuan digital secara sistematis. Pendekatan ini ditujukan untuk membantu guru meningkatkan produktivitas mengajar sekaligus menjaga agar berbagai sumber belajar dapat dikelola dan dimanfaatkan secara efektif.

Dr. Wahyu Hidayat saat mengelaborasikan tantangan guru mengelola informasi dan pemanfaatkan digital knowledge management untuk mendukung guru yang adaptif, Kamis (27/8/2026) (Dok. Panitia)

Lebih lanjut, Dr. Getbogi Hikmawan membahas aspek inovasi pembelajaran melalui materi “Gamifikasi dalam Pembelajaran Sains”. Ia memperkenalkan gamifikasi sebagai penerapan elemen-elemen permainan dalam konteks nonpermainan untuk meningkatkan keterlibatan, motivasi, dan kualitas pembelajaran. Beberapa prinsip yang diperkenalkan meliputi kompetisi yang positif, apresiasi terhadap pencapaian, tantangan dan jenjang kesulitan, kolaborasi, serta pengukuran kemajuan belajar.

Dalam paparannya, Dr. Getbogi juga memberikan sejumlah contoh penerapan gamifikasi dalam pembelajaran sains, seperti kuis dan trivia menggunakan platform digital, simulasi dan permainan edukatif, kompetisi proyek sains, serta building world dan role playing. Contoh-contoh tersebut menunjukkan bahwa pendekatan gamifikasi dapat diterapkan dalam berbagai bentuk, tidak terbatas pada penggunaan gim digital.

Ia juga menyoroti bahwa penerapan gamifikasi memiliki sejumlah tantangan, di antaranya ketersediaan teknologi, kebutuhan akan pengajaran dan pelatihan bagi guru, serta pemilihan konten yang tepat. Dengan demikian, gamifikasi perlu ditempatkan sebagai salah satu strategi pembelajaran yang disesuaikan dengan kondisi dan tujuan pembelajaran.

Dr. Getbogi Hikmawan saat memaparkan strategi gamifikasi yang dapat diterapkan untuk mendukung pembelajaran fisika di kelas, Kamis (27/8/2026) (Dok. Panitia)

Menguatkan Pembelajaran Fisika melalui Eksperimen dan Fenomena

Penguatan kompetensi guru juga dilakukan melalui pendekatan praktis dan konseptual. Dr. Agus Suroso membawakan materi terkait pembelajaran dan praktikum sains, termasuk topik “Perburuan Partikel Elementer” yang memperkenalkan peserta pada pertanyaan mendasar mengenai penyusun materi dan gaya-gaya dasar dalam fisika. Para peserta diminta untuk bekerja secara berkelompok dalam sebuah permainan yang mensimulasikan tahapan-tahapan dalam eksperimen energi tinggi untuk menyingkap sifat-sifat partikel elementer serta penemuan partikel baru. Pada akhir sesi, peserta diminta untuk menguraikan sejumlah aspek yang dipelajari dan juga kemungkinan pengembangan serta aplikasi model permainan yang telah dilakukan pada berbagai topik pembelajaran di kelas yang diampu oleh masing-masing guru.

Dr. Agus Suroso saat menjelaskan mengenai fisika partikel dan eksperimen sederhana yang dapat diimplementasikan di kelas untuk menjelaskan konsep-konsep sulit menjadi sederhana, Jumat (28/8/2026) (Dok. Panitia)

Pada bidang elektromagnetisme, Dr. Jusak Sali Kosasih menyampaikan materi “Mengajar Listrik-Magnet: Dari Rumus ke Fenomena, dari Intuisi ke Pemahaman”. Materi mengajak guru melihat kembali konsep listrik dan magnet melalui pertanyaan konseptual serta berbagai fenomena, sehingga pembelajaran tidak berhenti pada penggunaan rumus, tetapi juga mengembangkan intuisi dan pemahaman terhadap fenomena fisika.

Dr. Jusak Sali Kosasih saat menerangkan tentang berbagai miskonsepsi konseptual yang sering ditemukan pada guru dan siswa saat mempelajari fisika elektromagnetik, Jumat (28/8/2026) (Dok. Panitia)

Sementara itu, Prof. Freddy Permana Zen, D.Sc. membawakan materi “Teori Kuantum & Relativitas Einstein dalam Pengembangan Sains & Teknologi Menuju Milenium ke-3”. Paparan menghubungkan perkembangan teknologi modern—mulai dari tabung radio dan transistor hingga komputer—dengan prinsip-prinsip mekanika kuantum dan perkembangan teknologi yang lahir dari pemahaman fisika modern.

Prof. Freddy Permana Zen, D.Sc. saat menceritakan secara daring perjalanan perkembangan fisika kuantum dan aplikasinya, Kamis (27/8/2026) (Dok. Panitia)

Memperluas Perspektif Guru tentang Pembelajaran Sains

Beragam materi yang disampaikan dalam kegiatan ini memperlihatkan satu benang merah: pembelajaran fisika perlu menghubungkan konsep, fenomena, bukti, teknologi, dan pengalaman belajar peserta didik. Guru tidak hanya dituntut untuk menyampaikan materi, tetapi juga merancang pengalaman belajar yang memungkinkan siswa mengamati fenomena, mengajukan pertanyaan, membangun pemahaman, dan menggunakan bukti untuk mengevaluasi gagasan mereka.

Kegiatan workshop dipungkas oleh materi dari Dr. Fiki Taufik Akbar mengenai “Pemanfaatan Teknologi Informasi untuk Pembelajaran Fisika dan Pengenalan Program Magister Pengajaran Fisika ITB”. Materi tersebut menempatkan pendidikan sains dalam konteks Pendidikan Sains 4.0, yaitu pembelajaran yang lebih digital, terpadu, dan interaktif. Beliau menunjukkan bahwa integrasi fisika, teknologi, dan pendidikan dapat diwujudkan secara nyata. Hal ini ditunjukkan pada proyek-proyek mahasiswa Pengajaran Fisika seperti “Pemanasan Global dan Fotosintesis Berbasis Arduino”. Selain itu, Dr. Fiki juga menampilkan platform simulasi fisika interaktif melalui https://lensaphysics.com/. Serta sebuah buku pembinaan OSN yang menerapkan konsep scaffolding untuk memberikan pembelajaran yang bertahap dan terarah.

Dr. Fiki Taufik Akbar saat menerangkan profil dari Program Studi Magister Pengajaran Fisika dan Magister Pendidikan Sains 4.0 dan menerangkan karya-karya mahasiswanya, Jumat (28/8/2026) (Dok. Panitia)

Dalam kesempatan tersebut, peserta juga diperkenalkan pada Program Multidisiplin Pendidikan Sains 4.0 dan Program Magister Pengajaran Fisika ITB yang antara lain menawarkan sistem pembelajaran fleksibel secara hybrid serta penguatan kompetensi materi ajar dan teknologi bagi guru.

Melalui kegiatan ini, guru-guru Fisika, IPA, dan IPAS di Kabupaten Karawang memperoleh kesempatan untuk bertukar pengetahuan dengan para dosen FTETi sekaligus melihat beragam kemungkinan pengembangan pembelajaran di sekolah. Pendekatan yang diperkenalkan tidak hanya mencakup penguatan materi fisika, tetapi juga strategi pedagogis dan pemanfaatan sumber daya yang dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing sekolah.

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat KK FTETi ini diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk memperkuat kapasitas guru serta mempererat hubungan antara perguruan tinggi dan pendidikan dasar maupun menengah. Dengan membawa perkembangan keilmuan dan pengalaman akademik ke ruang kelas sekolah, kolaborasi semacam ini diharapkan dapat terus membuka ruang pertukaran pengetahuan serta pengembangan pembelajaran sains yang kontekstual dan relevan.